Kamis, 08 Maret 2018

tentang Lelang yang 110 Tahun....

sedikit agak serius...

percakapan di WAG siang itu mengalir pada sebuah obrolan menarik tentang lelang.., tidak seheboh hingar bingar perayaan 110 tahun lelang yang penuh dengan promosi murah harganya, mudah prosesnya, dan luar biasa pelayanannya, namun tetap hangat sebagai bahan sedikit pergeseran paradigma tentang lelang dari para investor lelang properti yang kadang dilupakan oleh para pemangku kepentingan yang sibuk dengan angka-angka pencapaian target penjualan dan prestasi pelayanan.., jangan dilupakan bahwa semua target lelang bertumpu pada loyalitas pembeli yang harus diperhatikan kepentingannya... 


awalnya menarik...membeli aset dengan harga murah melalui lelang, namun kejadian berikutnya sangat menyita perhatian dan menyedot sumber daya dalam proses akuisisi aset mengingat proses pengosongan yang tak semudah dibayangkan sebelumnya dan jauh dari jargon lelang yang obyektif dan menjamin kepastian hukum..., ada pula keluhan bahwa setelah bertahun-tahun bolak balik berusaha mengosongkan sebuah aset dengan biaya yang tak murah disana sini akhirnya hanya frustasi yang didapat dan sertifikat hanya menjadi sekedar koleksi buku yang selalu mengingatkan pada kekecewaan..., sejurus kemudian ada pengalaman ingin membeli aset melalui lelang, namun keinginan itu dihantui oleh banyak pertanyaan...amankah tanahnya, mudahkah prosesnya, dan kekhawatiran lain menyangkut kenyamanan hidup si pembeli..., menarik juga ada pengalaman membeli barang melalui lelang, melaksanakan semua kegiatan administrasi, namun tak pernah liat obyeknya, alasannya untuk investasi berharap bahwa yang ditabung akan memberi keuntungan kelak di kemudian hari..., semua cerita berkutat pada persoalan kekhawatiran membeli aset melalui lelang, sebuah proses jual beli aset yang sedikit banyak berunsur perjudian..., banyak cerita dan banyak rasa


seperti sebuah perjalanan hidup yang dinamis dan unik, penjualan melalui lelang selalu unik...satu kasus dengan kasus yang lain selalu berbeda citarasanya meski perlakuan dan prosesnya selalu sama...


kebanyakan lelang properti saat ini adalah lelang eksekusi yang memang dari sananya adalah suatu tindakan hukum untuk memaksa...kalau ditanya obyek lelang itu bermasalah atau tidak, menjadi sebuah kenaifan apabila dinyatakan tidak, ya...obyek lelang eksekusi selalu berawal dari permasalahan dan bermasalah...kalau tidak bermasalah tidak mungkin lah aset tersebut dilelang..ini inti persoalan yang kadang tidak pernah dimunculkan dalam promosi lelang atau setidaknya sosialisasi aturan...sisi pelayanan lelang dituntut mengakomodir juga kepentingan para investor untuk mendapat pemahaman yang benar soal karakteristik barang yang dilelang setidaknya tetap dalam bahasa promosi...


boleh jadi harga limit lelang bukanlah harga pasar wajar sebuah aset..., ini nilai tambah penjualan melalui lelang dibanding cara penjualan konvensional di pasar properti..., namun dalam perjalanannya harga murah ini didapat dari sebuah penyesuaian terhadap resiko yang mungkin akan timbul di kemudian hari dan menjadi tanggung jawab pembeli, pihak pemohon gembira karena barangnya laku lalu pihak pelelang bahagia karena target terpenuhi..., lalu si pembeli masih saja hidup dalam spekulasi berkedok penjualan apa adanya (as is), semua resiko dianggap sudah diketahui, dan hanya dibekali ketenangan palsu bahwa pembeli beritikad baik dilindungi undang-undang....pemahaman soal kekhawatiran ini mesti dipahami sebagai keberpihakan pada pembeli dan pengguna layanan...sudah layak dan sewajarnya institusi pemerintah penyelenggara lelang berposisi seimbang sebagai bagian dari fungsi pelayanan...


dunia terus berubah dan persaingan bukan hal yang mesti dikhawatirkan, persaingan menciptakan keseimbangan dan bersaing lagi lalu seimbang lagi...bukan hal yang aneh..., pasar properti pun demikian, nilai tambah yang dimiliki penjualan melalui lelang dibanding pasar konvensional mesti dikedepankan dalam promosinya, klw ga murah lalu apa nilai tambah lelang...klw harganya sama ya pasti yang ga bermasalah dan banyak tersedia di pasaran yang diambil orang.., namun declare terhadap resiko yang ada dan cara mengatasinya adalah nilai tambah dalam bentuk lain yang tentunya menimbulkan rasa percaya masyarakat pada Pemerintah utamanya sebagai penyelenggara lelang...


kenapa penting...?? penting karena lelang itu katanya menjamin kepastian hukum...mestinya yang pasti ini bukan hanya hukumnya kreditur dan debitur saja tapi juga hukumnya pembeli lelang sebagai investor, pengalaman masyarakat yang terdengar dalam obrolan kemarin adalah kekecewaan membeli secara lelang dengan harapan besar pada keberpihakan Bank sebagai penjual dan KPKNL sebagai penyelenggara lelang dalam menyelesaikan masalah-masalah yang timbul purna lelang...kemana bank kemana kpknl ketika aset tidak bisa dikosongkan, atau ketika proses administrasi balik nama di BPN kurang surat ini itu, atau ketika digugat pemilik rumah, atau atau...dan masih banyak atau yang lain..., lalu ini menjadi tantangan di masa depan kira-kira produk atau cara apa yang bisa mereduksi resiko atau setidaknya meminimalisir resiko atau setidaknya lagi menjadi senjata ampuh pembeli dalam menghadapi masalah-masalah purna lelang entah gugatan, eksekusi pengosongan, maupun masalah lainnya.....


begitulah lelang..., di satu sisi ingin menjadi media jual beli yang menjamin kepastian hukum namun di sisi pasar properti perlu pertimbangan faktor resiko untuk menentukan harganya...lalu tidak berlebihan apabila lelang lebih cocok disebut sebagai pasar spekulasi..., butuh proses untuk mengambil manfaat dari sebuah pembelian...


lalu ini pentingnya..., sinergi antara pasar yang dituju (investor) dengan institusi yang berkepentingan lelang menjadi media jual beli yang populer sangat perlu dibangun..., sang institusi yang menjadi kepanjangan tangan negara mestinya berdiri seimbang dengan mengingatkan pentingnya cek and ricek dokumen maupun fisik obyek yang dilelang, maka kemudian keterbukaan informasi dokumen yang dijual menjadi penting untuk dilakukan...tentu dengan prinsip kehati-hatian dan bukan asal umbar segala macam dokumen yang mengangkangi prinsip kerahasiaan tereksekusi..., perlu diatur mekanismenya agar pelaksanaannya pun jauh dari kekhawatiran apalagi kenyinyiran bahwa dokumen jatuh ke tangan broker..., sejatinya para broker juga merupakan stake holder yang ikut berkontribusi terhadap hidup matinya lelang, mereka juga merupakan media promosi lelang gratis....:))


seiring keinginan untuk memasyarakatkan lelang...ada baiknya promosi dan sosialisasi yang berimbang tentang seluk beluk lelang, peluang investasi, prosedur yang harus ditaati, dan resiko yang kemungkinan muncul mesti dilakukan dengan gembira tidak saja melulu kepada pemohon lelang yang umumnya adalah Bank/kreditur atau pengusaha balai lelang namun juga disampaikan kepada para investor..., pula perlu input yang berimbang tentang lelang kepada para broker, sekolah properti, akademisi, konsultan properti, dan masyarakat pada umumnya....menarik apabila sekali waktu sang institusi lelang mengadakan kumpul-kumpul para investor untuk sekedar sharing pengalaman dan membagikan pengalaman investasinya melalui lelang....bukan sebuah kemustahilan

at last...

anggaplah bahwa percakapan itu hanya sekedar brainstorming tentang pengalaman mengikuti lelang, namun pendapat pendapat yang muncul tetaplah otentik dari para investor dan bukan kumpulan asumsi dari pembuat kebijakan yang membuat aturan lelang melulu dari sudut pandang kepentingan proses kinerja kantor berupa angka angka target dan kepentingan pemohon lelang yang notabene selalu ingin cepat laku barangnya dan mendapat pemasukan yang signifikan....pendapat otentik inilah yang mungkin bisa menjadi masukan berarti untuk dunia lelang..

Selamat Merayakan 110 Tahun Lelang

Minggu, 25 Februari 2018

Harinya Tuhan...

Selamat hari minggu bintang...

mengawali pagi dengan keterlambatan bangun membuat segala aktifitas hidup seperti diburu hari akhir...kiamat, pagi yang menawarkan kesegaran hati terlewatkan hanya dengan banyaknya pikiran bahwa segala sesuatu akan terlambat hari ini dan semua hal terbebani untuk cepat diselesaikan entah bagaimana caranya dan apapun hasilnya...ide maksimal terganti dengan ide sesaat...

untung hari ini hari minggu....

lalu tanpa perencanaan yang bahkan sekedarnya membawa langkah pada pilihan apa pun yang menurut mood enak dilakukan, tanpa keharusan namun ada dorongan untuk berjalan...dan hari ini pilihan jatuh pada cabut cabut rumput di samping rumah....kegiatan sederhana namun berharap mungkin membawa pada kesegaran pikiran setelah dilakukan....bagaimana pun melihat rumput menghijau rapi tetaplah membawa suasana pikiran lebih enak dibanding melihat tumpukan sampah yang memantulkan tidak saja keruwetan namun juga situasi yang jorok....ini bukan masalah pencitraan namun tetap soal rasa...

dan ini lah pentingnya...sejurus kemudian refleksi atas hijaunya rumput yang menyegarkan menemukan kesimpulan bahwa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau karena ketidakmampuan diri kita dalam menambahkan rasa syukur terhadap hijaunya rumput di tempat kita sendiri...just only a self reminder but have to be thought.., kesyukuran itulah yang seharusnya membawa kita untuk rajin menyiangi rumput rumput liar yang tumbuh di antara rumput rumput pujaan, memupuk tanah tempat rumput itu diharapkan tumbuh menghijau menyegarkan, dan tentunya kesyukuran itu pula lah yang membawa manfaat besar pada efek efek samping dari memupuk dan menyiangi yakni badan turut segar karena turut bergerak berolah raga pagi...efek domino yang menyenangkan

sedikit penat hati terlewatkan melalui kegiatan sederahana memelihara rumput...dan tidak terlalu lebay bila dikatakan suatu tindakan nyata meski sederhana membawa hidup pada pemaknaan yang lebih dalam atas berbagai peristiwa....mestinya hari ini ke gereja buat berdoa, namun hari ini cukuplah kegiatan sederhana itu lebih mendekatkan pada Pencipta...

hari ini harinya Tuhan.., dan semua makna bisa ditemukan baik di dalam doa maupun tetap bekerja...

Tetap bersyukur dan gembira....


Sabtu, 24 Februari 2018

Rutinitas...

melakukan sedikit perjalanan, menikmati kanan kiri depan samping jalan sepanjang perjalanan, lalu melihat-lihat jejeran rumah yang dibangun rapi dan menyampaikan keinginan untuk memiliki satu saja bagian saja dari jejeran itu merupakan cara sederhana untuk melenyapkan kegundahan hati, sedikit kekecewaan, dan melupakan kejenuhan......belum tentu kanan kiri perjalanan adalah pemandangan indah karena kemacetan adalah salah satu penyumbang kesumpekan hati, pun pula belum tentu beli rumah karena ide dasarnya hanya untuk mendongkrak rasa percaya diri yang hampir mati digencet kekecewaan hati....perjalanan adalah perjalanan 

mungkin terlalu tak bernilai secara biaya dan mungkin terlalu lebay bila disebut sebuah keharusan, namun apa pun bentuknya....pelampiasan adalah pelampiasan...., bagian terpentingnya adalah kepuasan hati minimal mengalihkan sedikit perhatian kepada hal lain selain rutinitas hidup harian terutama rutinitas berpikir bahwa hidup terus menumpukkan kewajiban dan kebutuhan yang harus segera diselesaikan....

rutinitas...bagaimanapun manusia akan memiliki sisi rutin yang menjadikannya laksana robot bila sudah berhadapan dengan kewajiban dan tuntutan untuk melakukan hal yang sama secara periodik dan berulang ulang, tidak saja pada aktifitas fisik namun juga sering pada pikiran...semacam jadwal perjalanan Commuter Line Maja-Tanah Abang yang memiliki jadwal tetap setiap hari dan hanya berubah ketika aturan tentangnya dirubah...namun bagaimanapun aturan dirubah rutinitas kembali menjadi bagian perjalanan kereta itu....

maka kemudian rutinitas menjadi sebuah kebiasaan yang enggan pergi lalu menjelma menjadi karakter...apabila dinikmati mungkin akan disebut kewajaran, namun apabila menjelma menjadi keharusan yang tidak dapat diganti tanpa bisa dinikmati mungkin akan disebut sebagai kutukan...ini soal manusia, meski sisi robot terjelma namun keinginan cipta dan kenikmatan rasa tetap tak bisa disisihkan begitu saja....serutin apapun aktifitas manusia mengandung panggilan untuk menikmatinya secara berbeda dengan rasa yang tak selalu sama...

hidup menawarkan banyak pilihan, manusia boleh ambil satu, dua, atau semua pilihan...namun sejurus kemudian konsekwensi atas pilihan adalah kewajaran...dan hanya perlu disyukuri lalu dinikmati untuk kemudian memilih lagi...

kemudian malam menyapa.... 


kamar kerja, dini hari minggu yang sepi....

Sabtu, 17 Februari 2018

Jejak langkah...

Selamat malam bintang...

Melihat tumpukan berkas dan deretan buku yang terjajar rapi di lemari ruang ini membawaku pada sebuah lamunan yang terasa nyata bahwa aku tak tahu apa apa tentang apa pun dari perjalananku saat ini....kosong...melompong. Sebuah kondisi yang mau tidak mau harus diakui sebagai sebuah konsekwensi logis dari pilihan hidup yang kupilih.

Ga ngerti apa apa, ga kenal lagi siapa siapa....ga punya apa apa...ironi sebuah perjalanan yang sebelumnya penuh hingar bingar kehidupan sosial yang sarat dengan kreatifitas ide, kesibukan pekerjaan, maupun kenikmatan hubungan sosial...kehidupan yang memberi banyak makna, penuh cerita, dan terlebih merupakan kompilasi solusi dari setiap persoalan yang harus dihadapi.....dulu.

Mengulang sebuah kisah sukses sepertinya bukan sebuah pilihan saat ini mengingat usia yang tak lagi muda dengan pikiran yang cukup uzur untuk menerima dan belajar hal baru yang kadang pergerakannya secepat lamuan...datang dan pergi lalu berganti lamunan baru...terus bergerak tanpa jejak dan seolah mengamini bahwa tak ada sesuatu pun yang abadi kecuali perubahan itu sendiri...

Terkesan pesimis...namun alih-alih menyetujui sebuah pesimisme, otak ini tetap berputar mencari cara terbaik untuk tetap survive sekaligus mencoba mengerti bahwa arah perubahan harus tetap diikuti dengan rasa damai, nyaman, dan tenang....dan tetap menyetujui bahwa semua hal harus berubah sebelum dirubah secara paksa oleh semesta...rada ribet tapi begitulah adanya

Ada sebuah frasa pegangan bahwa energi mengikuti imajinasi....semua dibentuk pertama-tama oleh pikiran sebelum semuanya menjadi nyata.., dalam pemahaman itu lah jejak langkah ini akan mulai merayapi tapak-tapaknya...ke suatu arah yang terimajinasi dan terbentuk oleh bawah sadar pikiran...

So...hidup memberi banyak pilihan, kini dan disini adanya adalah konsekwensi pilihan yang diberikan oleh hidup dan rasanya layak diperjuangkan...karena pilihan itulah maka dengan refleksi yang terus menerus terhadap masa lalu, evaluasi atas masa kini, dan pemikiran baru untuk masa datang tentu merupakan pilihan tindakan yang harus dilakukan...optimisme, keyakinan, dan impian adalah kunci...

Dan bintang akan tetap bersinar sampai kapan pun menghiasi malam...dan aku pun akan terus berjalan mencari jati diri sekaligus menghibahkan diri...untuk aku, untuk kamu, untuk kami, dan untuk dunia ini...

Dengan cinta....

tentang Lelang yang 110 Tahun....

sedikit agak serius... percakapan di WAG siang itu mengalir pada sebuah obrolan menarik tentang lelang.., tidak seheboh hingar bingar pe...